Ya, batu Bacan memang menyimpan berjuta pesona. Warnanya hijau lumut
dan enak dipandang. Bagai magnet, perlahan pesonanya menarik hasrat
pendatang dan pelancong manca negara dari Taiwan, Korea dan negeri
‘Tirai Bambu’, Tiongkok. Mayoritas, memburu Batu Bacan asal Palamea dan
Doko.
Bila menengok kembali serpihan sejarah perabadan manusia, batu mulia
atau permata merupakan hiasan yang amat berharga. Selain keindahannya
yang memesona, juga unik, langka, dan sebagian kalangan percaya memiliki
daya magis, mendatangkan keberuntungan bagi manusia. Tapi hanya
digunakan mereka yang punya kuasa dan materi.
Kini, aksesoris yang membalut tubuh serupa itu telah dipakai semua
kalangan dengan berbagai motivasi. Ada yang dipersembahkan kepada
seseorang yang mengandung arti tersendiri.
Pesona batu Bacan membahana pada semua ruang dan waktu. Dari kedai kopi, jejaring sosial, perkantoran, pasar tradisional dan modern, hingga hajatan (leleyan) batu Bacan tak henti dibincangkan, dipamerkan. Hidup seakan tak lengkap, bila tak mengenakan permata mulia itu.
Pesona batu Bacan membahana pada semua ruang dan waktu. Dari kedai kopi, jejaring sosial, perkantoran, pasar tradisional dan modern, hingga hajatan (leleyan) batu Bacan tak henti dibincangkan, dipamerkan. Hidup seakan tak lengkap, bila tak mengenakan permata mulia itu.
Lantas apa sih yang bikin istimewa? Bentuknya? Warnanya? Atau daya magisnya?
Dari paparan salah seorang pedagang batu di Rawa Bening, batu bacan
bisa berubah warna dari hijau kegelapan atau biru gelap menjadi lebih
terang. Perubahan ini, diyakini bisa membawa berkah atau hoki bagi
pemiliknya. Yang jelas harganya jadi lebih mahal dan kini menjadi
bagian gaya hidup.
"Ada yang berwarna hijau terang. Ini disebut sudah Kristal karena
memang warnanya bisa berubah. Ini batu bacan yang sedang naik daun. Ada
juga yang berwarna kebiruan dan biasa disebut bacan Palamea dari wilayah
Palamea," tutur salah seorang pedagang batu bacan di kawasan Rawa
Bening, Jakarta Timur, Andy Arvan.
Rupanya, batu jenis ini banyak diperjualbelikan di Taiwan. Di sana,
orang menyebutnya blue jade untuk batu berwarna biru. Dan jade untuk
batu berwarna hijau. Untuk itu bacan Doko maupun bacan Palamea sering
disebut Giok Indonesia.
Perhiasan batu bacan pun kian ramai diperbincangkan di pasar batu
permata asli alam Indonesia. Berapa harganya? “Harga batu bacan
ditentukan oleh kualitas dan motif serta ukuran besar kecilnya,” tambah
Andy Arvan.
Menurutnya, batu bacan banyak diburu pembeli dari Tiongkok dan Taiwan.
Mereka membeli dalam bentuk batu cincin, liontin dan masih berbentuk
bongkahan batu untuk dibuat patung dan gelang, selanjutnya dijual di
negaranya.
“Yang pasti mereka nggak akan bilang giok ini berasal dari Indonesia,” kata Andy.
Hal senada dikatakan ‘pemain’ batu permata yang sudah 30 tahun malang
melintang dalam dunia permata, Widjaja. “Mereka bikin sertifikat bahwa
batu bacan dari RI ini ditulis berasal dari Taiwan atau Tiongkok,” kata
Widjaja.
Menurut Andy dan Widjaja, permintaan dari Tiongkok dan Taiwan sampai
saat ini banyak. Tapi karena bahan baku yang berkualitas sangat baik
semakin sulit didapat, menjadikan harga batu bacan melonjak.
“Sekarang susah mendapatkan batu bacan berkualitas. Lubang galiannya di
sana sudah sedalam 135 meter di bawah permukaan laut,” ujarnya.
Selain itu pedagang dari Medan, Surabaya dan Makassar langsung ke sana atau menempatkan ’orangnya’ di sana.
Begitu batu bacan keluar dari lokasi pengambilannya, sudah dibeli dan
mereka berani beli dengan harga tinggi. Dengan begitu Jakarta kekurangan
pasokan.
“Kalau dulu saya menerima kiriman tiap minggu bisa dua kali bongkahan
batu bacan, sekarang satu bulan sekali belum tentu ada. Itu pun harganya
sudah tinggi, sementara itu pembeli dari China dan Taiwan tidak mau
harganya dinaikkan,” ujar Andy.
Widjaja mengatakan bahwa pembeli dari Tiongkok dan Taiwan mau beli batu
bacan dengan harga murah, tapi mereka menjualnya ‘selangit’.
Andy menambahkan harga batu bacan sekarang yang sudah dalam bentuk
perhiasan (cincin, liontin) per crat berkisar Rp 200.000-Rp 2,5 juta
atau Rp 1juta-Rp 12,5 juta per gram, tergantung kualitasnya. Untuk
bentuk bongkahan per kilogram mencapai Rp 40 juta-Rp 100 juta dengan
kualitas super. “Tapi sangat susah diperolehnya,” katanya.
Andy terakhir kali mengekspor batu bacan ke Tiongkok dan Taiwan dalam
bentuk cincin. Tapi sudah tidak sebanyak seperti sebelumnya. Tahun lalu
dia bisa mengekspor batu bacan dalam bentuk bongkahan tiap bulannya
sebanyak 100 kg-300 kg untuk kategori menengah dan super.
Menurutnya, diperkirakan dalam beberapa tahun kedepan, sumbernya bisa
habis, sementara itu pengganti batu bacan belum tentu ada.
Widjaja menyatakan bahwa dengan sulit dan mahalnya bahan baku ini,
membuat para pengrajin perhiasan di Pasar Rawa Bening Jakarta semakin
berkurang. “Beberapa pengrajin yang ada hanya mengerjakan punya saya,”
tuturnya. (*)


0komentar
Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan..#ThinkHIGH! ^_^